July 31, 2017

5 Hal yang Perlu Dipersiapkan bagi Flashpacker Pemula

by , in


Sekarang ini, liburan alias traveling sudah seperti gaya hidup. Orang-orang berlomba-lomba meng-upload foto mereka saat sedang liburan di suatu tempat. Bahkan ada yang sampai berhutang hingga (mungkin) mengedit fotonya biar bisa pamer kalau sudah liburan. Padahal ya liburan ini kan sebenarnya sesuatu yang bisa direncanakan. Kalau kita ingin mengunjungi suatu tempat, ya berarti kita harus menyiapkan dananya terlebih dahulu alias nabung.

Dulu memang orang mengidentikkan liburan itu hanya bisa dilakukan mereka yang punya banyak uang di rekeningnya. Liburan gaya orang kaya ini biasa disebut liburan dengan koper. Lalu kemudian muncullah liburan ala backpacker yang minim biaya tapi harus siap dengan konsekuensi menginap di mana saja. Nah, ternyata sekarang ada loh jenis liburan yang berada di antara, namanya flashpacker alias flexible traveler.

Flashpacker sendiri mungkin tak jauh berbeda dengan backpacker. Bedanya seorang flashpacker memiliki prinsip selama liburan bisa melakukan apapun yang mereka inginkan bahkan kadang tanpa mempedulikan anggaran. Flashpacker akan berlibur tanpa memikirkan gengsi, penampilan ataupun identitas kelompok. Flashpacker pun tidak akan terlalu terpatok dengan jadwal yang ketat.

Misalkan saat berlibur yang mengaruskan menggunakan pesawat pun tak masalah. Ia akan mencari tiket domestik atau luar negeri asalkan nyaman saat pergi tak peduli mendapatkan harga promo atau tidak.

Nah, jika teman-teman tertarik untuk berlibur ala flashpacker, lima hal ini perlu kamu ketahui dulu saat menjadi pemula, di antaranya:

Tuliskan Keinginan (Impian) Saat Berlibur

Menuliskan daftar keinginan jelas merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Hal ini bahkan menjadi poin utama khususnya bagi The Savvy Flashpacker. Dengan menuliskan daftar ini akan membuat kita fokus dengan tujuan dan pengalaman. Bagaimanapun caranya, berapa lama waktu dan biaya yang diperlukan, asalkan impian dan tujuan terwujud hal-hal tersebut bukanlah masalah. Misalkan saja kita memiliki impian untuk mengunjungi lokasi shooting The Hobbit di New Zaeland dan melakukan pemotretan. Kita akan terus memenuhi impiannya tersebut dan tak akan berhenti.


Tentukan Destinasi Berlibur

Destinasi yang dipilih biasanya berhubungan dengan impian yang ingin dicapai. Sebelum berangkat, tentukan satu atau dua destinasi wisata. Seorang flashpacker tidak akan memaksakan diri untuk pergi ke banyak tempat hanya dalam kurun waktu yang singkat. Setelah memilih destinasi, rajinlah browsing agar memiliki gambaran barang atau perlengkapan apa saja yang dibutuhkan. Selain browsing, kita pun bisa bertanya kepada teman atau kerabat yang telah berlibur ke suatu tempat, tanyakan juga mengenai pengalamannya, adakah hal-hal yang tidak diprediksi saat berlibur ke destinasi A, sehingga kita pun bisa mengantisipasinya jika terjadi pada diri kita.

Siapkan Akomodasi dan Transportasi

Bagi flashpacker, dalam memilih transportasi sebaiknya sesuaikan masalah budget dan kenyamanan. Jangan sampai jarak tempuh yang jauh karena menginginkan biaya yang murah membuat kamu merasa tidak nyaman. Jika destinasi wisata masih berada di dalam negeri, list satu per satu transportasi apa yang bisa digunakan kemudian rincikan beserta harganya. Termasuk tentukan juga dari awal transportasi yang akan digunakan di tempat wisata nanti. Pun begitu dengan hotel, lebih baik pesan hotel sebelum keberangkatan. Dengan memesan hotel sebelum berangkat, kita memiliki waktu untuk memih hotel sesuai dengan keinginan. Misalkan memilih hotel yang dekat dengan objek wisata agar mudah dalam menangkap momen yang diinginkan contohnya mengejar momen matahari terbenam.

Untuk hotel, kita dapat booking hotel online murah dan mudah melalui Reservasi.com. Untuk membuktikan murah atau tidaknya kita bisa membandingkan harga hotel di reservasi.com dengan agen pemesanan hotel lainnya. Selain itu, di mana pun dan kapanpun kita bisa memesan hotel bahkan saat sedang macet di jalan dengan menggunakan aplikasi reservasi. Selain hotel, kita pun bisa sekaligus melakukan pemesanan tiket pesawat.

Siapkan Budget

Salah satu perbedaan yang signifikan antara flashpacker dan backpacker adalah dalam mengatur keuangannya. Flashpacker akan lebih longgar dalam menggelontorkan uangnya. Namun, bukan berarti seorang flashpacker tidak membuat daftar kebutuhan dan anggaran. Seorang flashpacker pun tetap harus membuat anggaran. Setelah membuat daftar kebutuhan kemudian mentotalkan biayanya seperti biaya untuk akomodasi, transportasi keberangkatan, pulang, dan di tempat tujuan juga kebutuhan makan di objek wisata. Seorang flashpacker harus memiliki anggaran dana darurat saat traveling. Dana darurat ini digunakan jika sewaktu-waktu ada suatu hal yang dapat menggagalkan pengalaman dan kenyamanannya.

Memilih Teman Perjalanan

Jika kita masih belum pede travelling sendirian, kita bisa memilih teman perjalanan untuk flashpacking kita. Tentunya dalam memilih teman perjalanan ini harus yang sevisi dengan kita. Jangan sampai kita pengennya ke museum teman kita pengen belanja. Nah salah satu keuntungan memiliki teman perjalanan ini adalah lebih mudah untuk menentukan job desk. Satu persatu diberikan tugas untuk mempersiapkan kebutuhan.

Lalu jika pergi dalam jumlah yang banyak buatlah grup agar mudah dalam berkoordinasi. Buatlah juga pertemuan satu kali atau dua kali untuk menyamakan tujuan kamu berlibur agar semua rencana dapat terjadi dengan maksimal.

Jika tidak bisa menemukan teman atau grup untuk berlibur, kita bisa bergabung dengan grup khusus flashpacker di berbagai jejaring media sosial. Grup khusus flashpacker umumnya sudah memiliki orientasi yang sama yakni mengutamakan kenyamanan dan pengalaman. Sehingga menghindarkan dari perselisihan.


Itulah dia 5 hal yang perlu dipersiapkan bagi seorang flashpacker pemula. Jangan lupa seorang flashpacker mencari kenyamanan dan pengalaman, bukan kemewahan. Selamat berlibur!

July 29, 2017

MPASI, Antara Teori dan Praktik

by , in


Tak terasa Yumna putri saya sudah berusia 7 bulan. Ini artinya sudah 1 bulan sejak pertama kali diberikan makanan pendamping berupa MPASI. Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, untuk MPASI Tyas saya memilih versi WHO yang memperkenalkan berbagai jenis makanan sejak awal pemberian MPASI. Berbagai macam teori tentang MPASI sudah saya baca untuk persiapan MPASI Tyas. Lantas apakah teori yang saya baca tersebut sesuai dengan kenyataan di lapangan? Berikut adalah jawabannya.

Teori 1 : Membuat daftar menu harian

Dalam forum HHBF yang saya ikuti, sebelum memulai MPASI para ibu dianjurkan membuat daftar menu tunggal yang akan diberikan pada bayi selama 14 hari. Hal ini bertujuan agar para ibu bisa mengatur menu mana yang tinggi serat sehingga bisa menghindarkan bayi dari sembelit. Kenyataannya, saya tidak membuat daftar tersebut. Alasannya sih karena nggak sempat aja. Jadi selama pemberian menu tunggal, saya memberikan bahan makanan sesuai yang ada di kulkas aja sambil mengecek apakah bahan ini tinggi serat atau tidak. Bahkan sempat ada beberapa bahan makanan yang saya berikan berulang. Lalu apakah anak saya kena sembelit? Iya. Tyas sembelit setelah saya berikan pisang dua hari berturut-turut. Pisang memang dikelompokkan dalam buah tinggi serat yang kalau untuk bayi bisa memicu sembelit. Sembelitnya sampai nangis karena udah ngeden tapi nggak keluar-keluar itu pup. Untungnya cuma sehari kejadian ngeden sampai nangis ini.

Teori 2 : Menggunakan saringan kawat untuk menghaluskan makanan

Untuk menghaluskan makanan untuk MPASI, ibu disarankan menggunakan saringan kawat. Jadi bahan makanan yang sudah dikukus dibenyek-benyek di atas saringan kawat dan diambil bagian yang sudah halusnya. Tak lupa diambil juga bagian yang menempel di bawah saringan. Kenapa tidak dihaluskan dengan menggunakan blender? Karena penggunaan blender kadang memerlukan tambahan air yang bisa membuat bubur jadi encer yang beresiko membuat bayi susah naik tekstur. Saya sendiri awalnya cukup rajin menyaring bahan makanan ini. Hingga kemudian saya menggunakan jagung untuk MPASI anak saya, dan saya pun menyerah. Duh, jagung ini susah sekali disaring sodara-sodara. Mungkin seharusnya sebelum dikukus dia diparut dulu pakai parutan kelapa biar halus. Akhirnya setelah itu saya lebih sering pakai blender ketimbang saringan kawat. Selain lebih memudahkan dalam menghaluskan makanan, penggunaan blender juga lebih mempersingkat waktu saya membuat MPASI untuk anak saya. Jadi ya saya kagum sih sama ibu-ibu yang keukeuh tetap pakai saringan kawat untuk menghaluskan MPASI anaknya.

Teori 3 : Berikan protein hewani sejak awal MPASI

Dalam panduan MPASI dari WHO yang saya ikuti, bayi sudah boleh dikenalkan pada protein hewani sejak awal atau di masa menu tunggal 14 hari. Sayangnya hingga lewat dua minggu masa perkenalan menu tunggalnya, saya belum juga memberikan protein hewani pada anak saya. Alasannya? Dilarang ibu saya. "Nanti pupnya bau," begitu kata ibu saya. Selain itu saya juga waktu itu agak takut memberikan protein hewani langsung di menu tunggal. Tahu sendiri kan ya ikan dan daging kadang rasanya amis. Akhirnya saya pun memberikan protein hewani langsung pada menu 4* nya Tyas. Alhamdulillah sih sampai hari ini tidak ada tanda-tanda alergi pada anak saya.

Teori 4 : Bayi tidak mengenal rasa hambar

Sebelum usianya 1 tahun, bayi dianjurkan tidak diperkenalkan pada gula dan garam pada makanannya. Karena tidak menggunakan gula dan garam ini tentulah membuat makanan yang dibuat ibu jadi hambar. Coba deh para ibu cicipi sendiri bagaimana rasa bubur saring bikinan yang tidak pakai gulgar. Pasti rasanya ada yang kurang. Nah, kalau bayi tidak mengenal rasa hambar, tentunya mereka akan lahap terus dong dikasih apa aja. Kenyataanya bayi saya kalau dikasih bubur saring makannya lebih sering mingkemnya sementara kalau dikasih pure buah mangap terus. Itu artinya bayi tahu dong ya makanan yang manis dan mana yang hambar. Tapi mungkin juga ini karena di awal MPASI-nya Tyas diberi buah duluan jadinya dia sudah tahu rasa manis. Siapa tahu kan ya kalau di awalnya dikasih sayur kasusnya akan beda. Saya sendiri masih tetap berusaha tidak memberikan gula atau garam hingga usianya setahun. Konsekuensinya ya tentu saja saya harus lebih kreatif dalam membuat makanan MPASI-nya.

Teori 5 : Untuk menghangatkan MPASI cukup direndam di air panas atau ditaruh dalam magic com

Sebenarnya kalau saya sedang ada di rumah, teori ini terealisasi. Nah, berhubung anak saya dititipkan selama bekerja, tentunya yang bertugas menghangatkan MPASI-nya adalah ibu yang menjaga anak saya. Dan beliau ini ternyata menghangatkan MPASI bikinan saya dengan cara dipanaskan di atas kompor. Saya sih sudah memberitahu kalau menghangatkannya cukup ditaruh di dalam magic com. Tapi kata si ibu rasanya kurang enak kalau dipanaskan di dalam magic com. Ya kita juga kadang kalau menghangatkan lauk pauk pilihannya biasanya di atas kompor kan, ya. Akhirnya saya pasrah deh soal hangat menghangatkan ini. Toh resiko dari menghangatkan di atas kompor cuma berkurangnya nilai gizi makanan kan ya, bukan bikin makanan jadi beracun.

Teori 6 : Bayi diajarkan minum air putih pada masa MPASI-nya 

Usai memberikan makanan pendamping, bayi diberi minum air putih untuk membersihkan mulutnya. Takaran air putih ini adalah 30 ml x berat bayi. Jika bayinya minum ASI takarannya cukup setengahnya saja per hari. Kenyataannya, ternyata susah juga mengajari bayi minum air putih ini. Bahkan saat medianya saya ganti pakai dot, anak saya tetap menolaknya. Tapi ya seiring berjalannya waktu Tyas sudah mulai biasa sih minum air putih pakai sendok meski minumnya disembur-sembur. He.

Teori 7 : Setelah menu tunggal, bayi makan 3 kali sekali dan 2 kali makanan selingan

Jadi, setelah lulus menu tunggal dan masuk menu 4*, jadwal makan bayi bertambah menjadi 5x sehari. Tiga kali menu 4* dan dua kali menu selingan/cemilan berupa puree atau kue tergatung usia bayi. Jarak antar jam makan sekitar 2-3 jam. Nah, berhubung anak saya masih 7 bulan, saya masih bertahap sih menambah jadwal makannya ini.

Nah, itulah dia pengalaman saya terkait teori MPASI, khususnya MPASI rumahan. Meski tidak benar-benar mengikuti teori yang diberikan tersebut, saya berharap anak saya tetap mendapat gizi yang baik dari makanan yang saya berikan padanya.
July 25, 2017

AMITRA Membantu Mewujudkan Impian ke Tanah Suci

by , in



Sewaktu kecil dulu, saya sempat bercita-cita menjadi guru. Jika ditanya alasannya, mungkin karena hanya itulah profesi yang benar-benar saya ketahui. Makin dewasa, saya pun semakin sadar kalau menjadi guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia dan bisa mengalirkan pahala bagi di akhirat nanti. Karena itulah saat saya ditawari pekerjaan membina beberapa anak dalam ekskul menulis di sebuah sekolah Islam Terpadu, saya menyanggupinya. Meski bukan secara resmi sebagai guru, saya tetap berharap dengan membagi ilmu saya di bidang menulis bisa memberikan manfaat bagi anak-anak tersebut.

Selama membina ekskul menulis ini, saya pun sadar kalau yang namanya mengajar itu bukan hal yang mudah. Entah itu yang dihadapi anak SD, SMP hingga mahasiswa sekalipun pasti ada tantangannya. Karena itulah seorang pengajar dituntut untuk bisa kreatif dalam menggunakan metode mengajarnya agar para murid yang diajarnya bisa merasa senang dan benar-benar mengerti apa yang diajarkan guru.

Nah, berkaitan dengan profesi guru ini, Ramadhan yang lalu, bertepatan dengan HUT FIFGRUP ke-28, AMITRA menggelar program khusus yang bertajuk AMITRA Berbagi Berkah. Program ini secara resmi diluncurkan oleh Presiden Direktur FIFGROUP, Margono Tanuwijaya dan Presiden Direktur AMITRA, Zulkarnaen Prasetya di Hotel Aston Priority, Jakarta Selatan pada 5 Juni 2017 yang lalu. AMITRA sendiri merupakan salah satu produk dari FIFGRUP yang melayani pembiayaan syariah. Dengan adanya pembiayaan syariah ini, pihak FIFGRUP berharap bisa melayani lebih banyak lagi masyarakat Indonesia terutama dalam membantu masyarakat dalam mewujudkan impiannya beribadah ke tanah suci.
“Kami berharap di tahun 2017, AMITRA bisa melayani lebih banyak lagi masyarakat Indonesia terutama dalam membantu masyarakat dalam mewujudkan impiannya untuk beribadah di tanah suci.”


July 20, 2017

Pengalaman Mengajak Bayi Travelling

by , in


Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami mengajak Tyas putri kami untuk mengunjungi kakek neneknya yang tinggal di Tangerang. Di usianya yang memasuki bulan ke tujuh, ini adalah pertama kalinya bagi anak saya melakukan perjalanan jauh dan naik pesawat pula. Sebagai orang tua baru, tentunya kami harus mempersiapkan perjalanan ini dengan baik. Saya sendiri sebelum keberangkatan sudah mencari-cari informasi seputar membawa bayi naik pesawat. Mulai dari perlengkapan apa saja yang harus dibawa, hingga tips agar bayi bisa nyaman dalam perjalanan. Selain itu saya dan suami juga beberapa kali melakukan perjalanan yang cukup sebagai pemanasan sebelum kami benar-benar berangkat nanti.

Satu hari sebelum hari H, saya dan suami berkemas. Suami memasukkan pakaiannya ke dalam ransel kecil sementara pakaian saya dan Tyas diletakkan di satu koper travelling. Dalam koper tersebut, selain berisi pakaian saya dan Tyas, juga saya masukkan beberapa perlengkapan bayi seperti popok, pompa ASI dan beberapa perlengkapan MPASI seperti saringan kawat dan parutan keju. Selain tas koper, saya juga membawa sebuah tas jinjing berisi popok ganti, minyak telon, ASIP dan MPASI untuk anak saya dalam perjalanan nanti. Rencananya kami akan berada di tempat mertua selama 5 hari. Oh, ya selain membawa dua tas tersebut, saya juga menyewa sebuah stroller untuk memudahkan kami membawa Tyas saat berada di tempat kakek neneknya nanti.

Tas dan koper sudah siap, maka tahap selanjutnya adalah berangkat. Pesawat kami dijadwalkan berangkat pukul 4 sore. Untuk perjalanan ini, saya terlebih dahulu melakukan check in online pada maskapai yang sudah saya pilih. Nah, berdasarkan saran yang saya dapat, jika membawa bayi sebaiknya pilihlah kursi bagian depan atau bagian belakang agar memudahkan akses keluar nanti. Saya sendiri awalnya memilih kursi bagian tengah karena saat check in kursi bagian depan sudah terisi. Eh saat check in lagi di bandara kursi saya dipindahkan ke depan oleh petugasnya. Jadi, kesimpulannya, ibu yang bawa bayi tidak boleh duduk di bagian tengah pesawat.


Saat pesawat akan take off, saya pun mulai mempraktikkan tips agar bayi tidak rewel saat pesawat akan terbang. Tips tersebut tak lain adalah menyusui bayi saat pesawat take off. Untuk yang satu ini saya sampai berlatih beberapa kali di rumah karena sejujurnya saya tak terbiasa menyusui di tempat umum dan kalau menyusui pun selalu disangga bantal. Nah, entah karena sudah kenyang atau karena tidak terbiasa menyusu di luar rumah ini, anak saya menolak disusui. Akhirnya sebagai alternatif saya dan suami memberinya buah potong untuk dikunyah saat pesawat mulai take off. Alhamdulillah selama perjalanan tersebut Tyas tidak rewel baik saat pesawat berangkat maupun mendarat.

Nah, setelah tantangan di pesawat terlewati, tantangan selanjutnya yang kami hadapi adalah macet. Heuheu. Jadi perjalanan dari bandara menuju rumah mertua di Pondok Cabe memakan waktu 3 jam lebih. Karena membawa bayi, kami putuskan untuk naik taksi online saja dengan biaya sekitar seratus lima puluh ribu plus biaya parkir dan tol. Alhamdulillah anak saya lumayan anteng di dalam mobil. Mungkin karena hari sudah malam dan anak saya sudah kelelahan, dia jadinya ketiduran di perjalanan.

Jika saat perjalanan berangkat anak saya super anteng, maka hal yang sebaliknya terjadi saat kami pulang ke Banjarmasin. Untuk perjalanan pulang ini, saya memilih penerbangan siang. Kami berangkat pagi-pagi untuk menghindari macet dan ternyata malah tiba di bandara 3 jam sebelum pesawat berangkat. Kombinasi antara bosan dan mengantuk mungkin pada akhirnya membuat Tyas menjadi sedikit cerewet. Dia tidak menangis sih tapi maunya diajak jalan terus. Untungnya saya kemudian menemukan sebuah rest area yang terdapat di lantai 2 terminal 1 C. Sambil menunggu panggilan untuk pesawat saya pun menyusui dan menidurkan Tyas di tempat tersebut.


Berkaca dari perjalanan saya kemarin, ada beberapa hal yang harus saya perhatikan saat mengajak bayi travelling, yakni:

Perhatikan jam tidur bayi

Anak saya termasuk yang rewel saat dia sudah mulai mengantuk. Dari perjalanan kemarin bisa saya simpulkan kalau dia akan lebih nyaman jika perjalanan dilakukan setelah jam tidurnya atau setelah tidurnya cukup. Beberapa artikel juga menyarankan sebaiknya perjalanan dilakukan pada jam tidur bayi agar bayi tidak rewel.

Pilih alat transportasi yang nyaman untuk bayi

Kalau saat travelling sendirian kita bisa dengan santainya memilih naik turun angkutan umum, maka saat membawa bayi saya jelas lebih memilih akomodasi yang lebih nyaman. Dan saya sangat bersyukur dengan keberadaan taksi online yang ada di kota-kota besar sekarang. Dengan menggunakan taksi online ini, saya bisa duduk dengan nyaman dan kalau anak saya lapar dia bisa menyusu dengan nyaman.

Pakai gendongan yang nyaman agar tidak capek

Meskipun sudah membawa stroller, tetap saja gendongan diperlukan saat mengajak bayi travelling. Saya pribadi hingga hari ini lebih nyaman menggunakan gendongan model SSC ketimbang gendongan jarik atau geos. Memang sih agak ribet pemasangannya dan tidak ringkas saat dibawa. Namun gendongan jenis ini membuat pembagian beban di bahu lebih merata sehingga mengurangi rasa pegal saat menggendong bayi.

Demikian pengalaman saya saat mengajak bayi travelling. Semoga bisa bermanfaat bagi semua :)
July 12, 2017

Wanita Bekerja dan Risiko Terkena Infeksi Saluran Kemih

by , in




"W nggak masuk ya, hari ini?" tanya saya pada salah satu rekan kerja saya satu hari di tahun 2015.

"Nggak. Dia sakit. Harus opname," jawab rekan kerja saya tersebut.

Saya langsung terkejut mendengar jawaban beliau. Seingat saya beberapa hari sebelumnya teman saya ini masih sehat-sehat saja.

"Sakit apa, Kak?" tanya saya lagi.

Kakak itu kemudian mendekat pada saya dan sedikit berbisik, "Infeksi saluran kemih."

Saya terdiam sejenak. Infeksi saluran kemih. Rasanya baru kali itu saya mendengar namanya. Penyakit jenis apakah itu? Apa penyebabnya? tanya saya dalam hati.

Setelah kembali bekerja, saya pun menanyakan perihal penyakit yang dideritanya pada teman saya W ini. Rupanya dia terkena infeksi saluran kemih ini disebabkan oleh kebiasaannya menahan pipis saat berada di kantor. Yah, namanya kantor kadang WC harus gantian kan, ya. Belum lagi kadang ada pekerjaan yang suka nanggung untuk ditinggalkan. Jadilah teman saya ini kadang lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Siapa sangka karena terlalu sering menahan pipis ini ternyata membawa masalah untuk teman saya itu.

Saya sendiri kemudian mencari tahu lebih lanjut tentang penyakit Infeksi Saluran Kemih ini. Jadi infeksi saluran kemih atau anyang-anyangan ini adalah infeksi bakteri yang menyerang daerah saluran kemih pada tubuh. Infeksi ini terjadi karena kuman masuk ke dalam saluran kemih dan bergerak menuju uretra. Penyebabnya sendiri adalah bakteri E Coli yang menempel pada saluran kemih. Untuk gejalanya umumnya sendiri antara lain munculnya keinginan untuk buang air kecil yang lebih sering namun keluarnya sedikit-sedikit dan muncul rasa nyeri saat buang air kecil. Nah, ironisnya, sebagai wanita kita memiliki peluang lebih besar untuk terkena anyang-anyangan ini. Hal ini karena saluran kemih pada perempuan lebih pendek dan lebih dekat dengan anus.



Selain kebiasaan menahan pipis, ternyata ada hal-hal lain yang juga bisa memicu munculnya gejala infeksi saluran kemih ini. Dan jujur saja kadang kita masih menganggap sepele hal-hal tersebut seperti memperhatikan kebersihan pakaian dalam, membersihkan kemaluan dengan benar setelah BAK/BAB, hingga mengecek kebersihan toilet yang digunakan. Sebagai wanita bekerja, kondisi toilet yang digunakan bersama-sama tentunya harus menjadi perhatian. Kalau saya sih lebih senang menggunakan toilet jongkok ketimbang toilet duduk. Namun jika toilet yang ada cuma toilet duduk maka pastikan untuk membersihkan terlebih dahulu bagian dudukan toilet yang akan digunakan.

Agar terhindar dari Infeksi Saluran Kemih, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan, yakni:
  • Membersihkan kelamin dengan air bersih.
  • Jika membasuh vagina, lakukan pola dengan  membersihkan dari arah depan menuju belakang (vagina menuju anus) agar bakteri dari anus tidak menyebar ke organ intim.
  • Selalu ganti pakaian dalam setiap hari atau dua kali sehari jika sudah terasa tidak nyaman
  • Jangan biasakan menahan kencing.
  • Minum air mineral yang cukup, 8 gelas perhari.
  • Biasakan buang air kecil sebelum dan sesudah berhubungan seksual.
Lalu bagaimana dong kalau sudah kena gejala infeksi saluran kemih? Langkah pertama yang harus dilakukan tentu saja memeriksakan diri ke dokter. Selain itu kita juga bisa mengkonsumsi produk yang bisa mengatasi gejala-gejala yang timbul dari infeksi saluran kemih. Salah satu produk yang direkomendasikan adalah Prive Uricran Cranberry Extract. Uricran ini merupakan salah satu produk dari Combhipar yang mengandung ekstrak buah cranberry yang dipercaya dapat menghilangan gejala Infeksi Saluran Kemih.
Komposisi: 250 mg Ekstrak Cranberry Sediaan: Kapsul Dosis: 1-2 Kapsul / Hari Isi per Box: 30 Kapsul / Box


Komposisi: 375 mg Ekstrak Cranberry, 60 mg Vit C, 0.1 mg Lactobacillus Achidopillus, 0.1 mg Bifidobacterium bifidum. Sediaan: Powder Sachet Dosis: 1-2 Sachet / Hari Isi per Box: 15 Sachet / Box

Cranberry (Vaccinium oxycoccos) adalah tanaman jenis berry yang termasuk tanaman semak atau tanaman yang biasanya tumbuh liar. Tanaman cranberry memiliki banyak kesamaan dengan blueberry, hanya saja cranberry mempunyai warna merah tua. Buah cranberry yang tergolong ke dalam tumbuhan semak-semakan pendek ini banyak ditemukan di bagian utara Amerika dan Kanada. Konon, buah ini sudah diketahui khasiatnya sejak zaman nenek moyang suku Indian kuno, yakni sebagai obat luka akibat terkena panah. Beberapa tahun terakhir ini, cranberry populer digunakan sebagai sumber vitamin untuk meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah sariawan, dan sebagai antioksidan.

Produk Uricran sendiri terdiri atas 2 jenis yakni kapsul dan sachet. Kita tinggal pilih mau menggunakan produk yang mana. Untuk produk kapsul, kita bisa mengkonsumsinya sebanyak 1-2 kapsul/hari. Adapun untuk produk sachet kita tinggal menyeduhnya sebanyak 1-2 sachet/hari. Jadi, bagi teman-teman yang mulai merasa sering bolak-balik ke toilet karena pipis yang tak teratur, tidak ada salahnya untuk mencoba produk ini :)
July 06, 2017

Cerita Lebaran : Jatuh Bangun di Kampung Orang Tua

by , in


"Tadi Dede pintar lho, Mas pas aku dan Mama salat. Dia rebahan dan nggak rewel," kata  saya pada suami sepulang dari salat Ied yang kami laksanakan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Tak seperti tahun lalu, tahun ini Ramadan dan lebaran kami memang terasa berbeda dengan kehadiran putri kami yang sekarang berusia 6 bulan. Jika tahun lalu saya masih bisa mengikuti ibadah tarawih bersama suami di mesjid atau musala, maka untuk tahun ini ibadah tarawih saya lakukan di rumah saja karena rasanya tak mungkin membawa Tyas ke musala atau mesjid untuk ikut tarawih.

"Iyakah? Alhamdulillah kalau Dede-nya pintar," balas suami saya sambil menimang putri kami.

Berbeda dengan tarawih, untuk ibadah salat Ied saya dan suami akhirnya memutuskan untuk membawa serta anak kami. Selain karena durasinya yang terbilang singkat, saya juga ingin mengenalkan Tyas pada suasana salat Ied. Selain itu anak saya masih belum terlalu aktif pergerakannya. Meski begitu, tetap saja yang namanya membawa bayi, otomatis persiapannya jadi sedikit lebih repot ya. Untungnya saya dan keluarga tidak sampai terlambat tiba di tempat salat. Hanya selang beberapa menit sebelum imam memulai salat, saya dan ibu sudah berhasil mendapatkan tempat salat.

Saat suami setuju untuk membawa serta Tyas dalam pelaksanaan salat ied, dia menyarankan agar saya salat sambil memangku anak kami. Namun karena yakin anak saya tidak akan rewel, sebelum melaksanakan salat, Tyas saya letakkan di antara saya dan ibu dengan beralas selimut miliknya. Alhamdulillah, selama kami salat Tyas tidak menunjukkan tanda-tanda bosan atau rewel. Sementara kami salat, matanya tampak bolak-balik memandangi saya dan ibu saya. Tyas juga tidak melakukan aksi tengkurap seperti yang kerap dilakukannya jika sudah direbahkan. Mungkin dia sadar kalau alas tidurnya keras jadi dia lebih memilih tetap dengan posisi telentang. Sambil memandangi ibu dan neneknya, sesekali anak saya mengeluarkan celotehan khas miliknya.