Cerita Di Balik Migrasi ke Top Level Domain



Sejak awal ngeblog, sebenarnya saya sudah bercita-cita untuk bisa memiliki blog berakhiran dotcom. Kala itu yang ada di pikiran saya keren aja kalau bisa punya blog dengan akhiran dotcom ini. Saya belum mengerti tentang monetize dan hal-hal lain yang saat ini mungkin menjadi alasan orang-orang menjadikan blog gratisannya menjadi Top Level Domain. Yah, waktu itu memang kayaknya dunia blogger belum semenjanjikan sekarang, jadilah saya ngeblog murni karena ingin mengeluarkan isi di kepala.

Seiring dengan semakin banyaknya teman-teman dunia maya yang mengganti blog gratisannya menjadi blog berbayar, keinginan saya untuk bisa pun semakin menguat. Sayangnya dengan alasan membuat blog TLD itu mengeluarkan biaya, akhirnya saya putuskan untuk tetap setia dengan blog gratisan. Selain itu, saya juga khawatir tidak akan bisa konsisten menulis saat sudah memiliki blog TLD nanti.

Setelah berbulan-bulan bersemedi, akhirnya saya pun bulat memutuskan untuk berpindah dari blog gratisan ke blog berbayar. Karena saya menggunakan blog wordpress, otomatis saya harus menyewa hosting terlebih dahulu baru bisa membeli domain. Bisa sih sebenarnya saya pindah haluan ke blogspot yang tak memerlukan hosting. Tapi yah saya sudah nyaman ngeblog di wordpress ini. Mau nggak mau harus rela bayar lebih deh.

Saya pun mulai melalukan survey pada penyedia jasa hosting. Setelah melakukan berbagai perbandingan harga, akhirnya saya pun memilih Qwords.com sebagai rumah baru bagi blog saya. Saat itu saya memilih paket Cloud Web Hosting S dengan kapasitan 1500 MB dan biaya per bulannya Rp. 19.500, namun jika memesan untuk 1 tahun, biayanya berkurang menjadi Rp. 16.500/bulan. Nah untuk domainnya sendiri, saya memanfaatkan promo yang sering diadakan oleh Qwords.com. Saat itu harga domainnya sekitar Rp. 25.000 kalau tidak salah. Jadi kalau ditotal, biaya menyewa hosting + domain yang saya keluarkan adalah Rp. 242.000.00.

Setelah melakukan konfirmasi pembayaran, pihak Qwords langsung mengirimkan balasan berupa akun wordpress saya yang baru beserta Cpanelnya. Dalam proses penginstalannya, alhamdulillah saya tidak direpotkan karena pihak Qwords sudah memberikan aplikasi jadi untuk saya. Jadi saya tinggal login dan menata rumah baru saya. Berikut adalah hal-hal yang saya lakukan setelah berhasil login ke alamat blog yang baru.

Menginstal Jetpack dan plugin-plugin lain yang diperlukan

Saat login ke akun blog yang baru, saya sempat bingung bagaimana caranya menghubungkan akun wordpress saya yang sudah. Dari mas Febryan Lukito saya akhirnya tahu kalau saya harus menginstal plugin Jetpack terlebih dahulu agar bisa login dengan akun wordpress yang lama. Selain jetpack, saya juga menginstal plugin lain yang dirasa penting seperti SEO, Google Analytics dan plugin lainnya.

Memilih tema dan menata tampilan blog

Dari yang saya tahu, dalam memilih tema untuk blog kita harus memperhatikan apakah tema yang dipilih cukup responsif saat dibuka melalui ponsel. Selain memilih tema yang responsif, pengaturan tata letak widget yang dipilih juga cukup menentukan menarik tidaknya tampilan blog kita. Saya sendiri masih dalam tahap utak-atik untuk tema blog ini.

Memindahkan postingan lama ke rumah baru

Langkah selanjutnya yang saya lakukan adalah memindahkan postingan-postingan saya di blog ayanapunya.wordpress.com. Sebelumnya saya harus meng-ekspor postingan saya di blog lama. Karena maksimal file yang bisa diunggah hanya 2 MB, maka back up dilakukan per bulan lalu kemudian diimpor ke blog baru. Untuk proses impor ini saya memerlukan beberapa kali pemindahan karena beberapa postingan gagal dipindah. Setelah postingan di blog lama berhasil diekspor, blog lama di-setting privat agar pembaca bisa dialihkan ke blog baru. Lucunya, meski sudah disetting privat, setiap saya cek statistik masih ada yang bisa membaca blog lama saya. Ini jelas mempengaruhi traffic di blog selfhosted saya. Jadi bisa dibilang meski postingan banyak, saya tetap harus mulai dari awal lagi ngeblognya.

Bicara tentang penyedia jasa hosting sendiri, bisa dibilang saya cukup puas dengan pelayanan Qwords.com ini. Di awal-awal ngeblog dengan selfhosted ini, saya sempat mengalami beberapa masalah dalam pengaturan blog. Dan setiap kali saya mengajukan permasalahan yang saya hadapi responnya bisa dibilang sangat cepat. Pernah saya menghubungi pihak Qwords dini hari saat tahu blog saya kena hack, dan mereka tetap melayani pertanyaan saya. Salut deh. Qwords juga setahu saya termasuk penyedia jasa hosting dan domain yang sering sekali mengadakan promo yang tentunya sangat menggiurkan bagi para blogger. Untuk hostingnya sendiri memang sempat beberapa kali down namun biasanya tak terlalu lama.

Setelah memiliki selfhosted blog ini tugas saya tentunya adalah mengisinya dengan konten-konten bermanfaat. Untuk hal ini jelas saya masih perlu banyak belajar. Semangat!

10 comments:

  1. Sama mbak, dulu aku awal ngeblog taun 2010an juga pengen berakhiran dotcom biar keren haha. mana tahu monetize kala itu.

    ReplyDelete
  2. Wah, kayaknya repot nih kalau pake wordpress. tapi kalau emang udah suka sih susah pindah ya Mbak. Aku pakai blogspot karena gaptek utak-atik wordpress. Selamat ya domain barunya.

    ReplyDelete
  3. sekarang ngeblog malah jai profesi ya. hehe

    ReplyDelete
  4. kalau ngeblognya sih nggak repot, mbak. yang repot ngumpulin trafficnya. hehe

    ReplyDelete
  5. selamat mba, saya juga beli 2 domain di qwords :)

    ReplyDelete
  6. Apa yang dilakukan untuk berjaga-jaga supaya tidak kena hack lagi? Ada rekomendasi plugin?

    ReplyDelete
  7. wordfence, mas. kalau kemarin sih di cpanelnya diedit

    ReplyDelete
  8. kayaknya memang banyak yang pakai qwords ya, mbak :)

    ReplyDelete
  9. aku masih maju mundur mau men-dotcom-kan diri mbak. Doain biar cepet nyusul yaaa...

    ReplyDelete
  10. semoga bisa segera dotcom yaa. hihi

    ReplyDelete